Agama Jangan dijadikan kambing hitam untuk permusuhan

respect

Saat ini, berbagai isu tengah datang bergelombang, berusaha memecah belah kesatuan NKRI. Baik isu politik maupun isu Agama. Nah, isu yang terakhir inilah yang membuat banyak kalangan prihatin dan mengelus dada.

Beberapa pihak yang mengatasnamakan agama, menjadikannya alat untuk melegalkan berbagai tuntutan dan cara dalam bertindak. Hal ini tentu saja memecah belah persatuan dan sangat bertentangan dengan Pancasila.

Isu Agama menjadi sangat sensisitif saat ini, karena sebagian masyarakat sudah terlanjur terkondisi. Satu percikan api saja bisa membakar habis apa yang sudah di bangun selama ini.

Dilihat dari Histori Indonesia dari sejak jaman perjuangan pada masa kolonial, perjuangan untuk merdeka tidak hanya dilakukan oleh satu umat dengan Agama tertentu saja, tetapi semua orang dengan semua Agama, suku dan etnis. Mereka bersatu dengan satu tujuan, Indonesia Merdeka.

Saat ini seiring berjalannya waktu, Indonesia seperti dikotak-kotakkan, salah satunya oleh Agama. Spirit kebersamaan, persaudaraan yang sudah diwariskan oleh para pendiri Negara ini seolah sudah dilupakan oleh semua anak bangsa.

Apa jadinya Indonesia ketika Kemerdekaan, semangat persaudaraan dan kebersamaan yang sudah dihadiahkan serta diwariskan oleh para pendahulu ini hancur luluh akibat pertikaian dari dalam?
Indonesia adalah Negara yang sangat beragam etnis, suku, bahasa, budaya dan agama. Jadi, sudah semestinya setiap warga negara untuk mulai belajar menghargai perbedaan.

Alissa Wahid, putri Gus Dur saat menghadiri kegiatan Camp Pesona Kebhinnekaan beberapa saat yang lalu mengatakan “Yang berbeda janganlah di sama-samakan, dan yang sama janganlah di beda-bedakan”.

Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah juga berkata “kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara, dengan adat budaya nusantara yang kaya raya ini”

K.H. Abdurrahman Wahid menegaskan bahwa “keindonesiaan adalah ketika agama-agama atas keyakinan yang hidup di Indonesia berdiri sejajar dan memiliki kontribusi yang sama terhadap negeri”.

Amirsyah Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pun mengatakan “Orang yang beragama harus menjadi problem solver (pemecah masalah), bukan problem maker (pembuat masalah). Jangan jadikan agama sebagai kambing hitam,”. (Republika.co.id)

respect

Perbedaan yang ada di Indonesia tidak hanya sekarang, tetapi harus disadari sudah ada sejak dahulu kala.
Semangat persaudaraan hendaklah ditumbuhkan kembali dengan introspeksi mendalam antar pribadi. Bukankah dalam setiap ajaran agama apapun tidak diajarkan membenci, memusuhi bahkan membunuh ?

Konflik yang terjadi di luar negeri, di Palestina akibat Klaim sepihak dari Donald Trump akan semakin membara dan tidak menutup kemungkinan berimbas di dalam negeri Indonesia apabila kita semua kurang bijak mensikapinya.

Agama itu “Ageming Aji”, yang merupakan tuntunan setiap orang agar sampai kepada Tuhan. Apapun yang kamu lakukan itu urusan pribadimu dengan Tuhanmu. Selama tidak mencampuradukkan masalah keimanan dan peribadahan, tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama lain atau menentang ajaran Agama, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *