Anak : Kertas Putih yang Siap Diwarnai

Ilustrasi Anak Foto: www.momnewsdaily.com

Belum hilang dari ingatan kita, kasus bom bunuh diri yang dilakukan satu keluarga di Surabaya. 13 Mei 2018 Indonesia digegerkan kasus bom bunuh bunuh diri yang diledakan pada tiga gereja di Surabaya. Pelibatan anak, dalam kasus bom bunuh diri yang dilakukan di tiga gereja Surabaya, sangat mengkhwatirkan banyak pihak. Anak-anak yang semestinya bermain dengan riang, dicekoki paham-paham radikalisme dari keluargnya. Pemahaman ajaran agama yang menyimpang dari orangtuanya, ikut berimbas pada anak-anak mereka. Terpapar dengan pemahaman radikalisme setiap hari membuat anak-anak tersebut, mau tidak mau mengikuti jejak orangtuanya.  Anak diibaratkan sebagai sebuah kertas putih yang siap diwarnai oleh keluarganya, mau jadi apa nanti kedepannya tergantung didikan dari orangtuanya

Peran keluarga dalam pembentukan karakter anak sangat dibutuhkan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, banyak sistem pendidikan yang secara sembunyi-sembunyi mengajarkan paham radikalisme dengan sasaran anak-anak, sebagai generasi muda, anak-anak sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal baru.

Lalu bagaimanakah cara yang tepat mencegah anak agar terhindar dari paparan paham radikalisme :

  1. Jadikan anak sebagai teman

Menjadikan anak sebagai teman adalah salah satu cara yang tepat untuk menghhindari paparan radikalisme, layaknya seorang teman, yang senang berdiskusi. Orangtua harus sigap mengajak anak berdiskusi mengenai hal-hal baru yang diitemui si anak, dan selalu ada untuk anak.

  1. Memberikan pemahaman pada anak tentang perbedaan

Indonesia merupakan negara yang penduduknya heterogen, dari sinilah orangtua dapat mengajarkan pemahaman sedikit demi sedikit pada anak, tentang keberagaman Indonesia yang akan menciptakan perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Mengajarkan anak tentang pentingnya toleransi

Keberagaman Indonesia, harus diajarkan pada anak sejak usia dini, hal ini berguna agar saat anak menginjak remaja dan menemui suatu perbedaan di lingkungannya, anak dapat bertoleransi terhadap perbedaan tersebut.

  1. Memberikan ajaran agama secara utuh dan benar

Tak dipungkiri paham radikalisme banyak menyinggung persoalan agama. Dalam agama Islam menganut ajaran bahwa, Ibu dan keluarga adalah madrasah pertama, sehingga, sudah semestinya keluarga yang pertama kali memberikan ajaran agama secara utuh dan benar.

  1. Memberikan pemahaman pada anak tentang bahaya radikalisme

Memasuki usia remaja, anak semakin dapat membedakan mana yang baik untuknya dan mana yang buruk untuknya. Dari sinilah orangtua dapat memasukkan topik tentang radikalisme, sebagai bahan diskusi keluarga, orangtua dapat memperkenalkan radikalisme sendiri itu apa dan bahaya radikalisme, dengan pembahasan yang ringan sehingga anak dapat memahami dengan mudah tentang radikalisme.

  1. Izinkan anak membahas tentang SARA dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari

Memberikan ruang terbuka pada anak untuk menyampaikan yang mereka temui tentang  SARA dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua dapat memberikan saran jika anak masih kesulitan, dalam bersikap toleransi di kehidupan sehari-hari, dan memberikan sedikit penghargaan pada anak, saat anak berhasil menerapkan sikap toleransi di kehidupan sehari-hari, misalnya dengan memuji apa yang dilakukan anak.

  1. Membuat suasana rumah menjadi nyaman

Selalu membuat suasana rumah hidup, akan membuat anak betah berlama-lama di dalam rumah, sehingga hal ini menjegah paham radikalisme dari luar rumah masuk pada anak.

  1. Mengajari anak bersikap kritis

Mengajari anak untuk bersikap kritis pada semua hal dapat mencegah paham radikalisme, hal ini dikarenakan anak akan berpikir ribuan kali sebelum mengenal paham tersebut.

  1. Membatasi anak dalam menggunakan gawai

Tidak dipungkiri paham radikalisme, banyak disebarkan melalui dunia maya. Orangtua dapat membatasi interaksi anak, dalam berselancar di dunia maya dan orangtua dapat mebatasi anak dalam penggunaan gawai.

Dalam melukis seorang pelukis harus memperhatikan pewarnaan yang tepat dalam mewarnai kertas putihnya. Begitu pula orangtua, dalam  mendidik anak, sudah semestinya orangtua menjadi pencetak generasi unggul, dengan memperhatikan cara mendidik anak, terlebih di era modern saat ini, paham-paham radikalisme dengan mudah mempengaruhi anak. Sehingga dibutuhkan didikan yang tepat bagi anak. (Antika Damayanti)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *