Dakwah Via Fesbuk, Yakin Tepat Sasaran?

kebersamaan

Interaksi menggunakan media sosial tidak berbeda dengan berinteraksi di dunia nyata. Harus tetap beretika. Bagaimana etika orang berinteraksi di dunia nyata? Tentu jika berbicara memandang lawan bicara, sebagai wujud perhatian dan penghormatan terhadapnya. Memilih diksi/kata yang tepat untuk menyesuaikan sampainya informasi terhadap lawan bicara. Indikator pencapaian sebuah komunikasi adalah terjadinya feed back/ timbal balik. Ai??Lalu bagaimana kita bisa mengetahui kalau komunikasi kita sukses melalui dunia maya?

Simak kisah berikut sebagai ilustrasinya, siapa tahu kamu juga mengalaminya.

Suatu siang, aku dapati status temanku setiap menit naik. Sebut saja Kumbang. Awalnya aku abai, tapi lama-lama ingin juga membaca. Komentarnya lebih dari 50. Statusnya cukup panjang, aku berusaha sabar untuk membaca kalimat demi kalimat. Inti dari status fesbuk temanku itu ternyata sebuah ungkapan ketidaknyamanan karena unggahan status dari teman lama kami waktu kuliah, sebut saja Melati.

Kumbang, Melati, dan aku adalah teman satu kampus yang beda jurusan. Kalian tak perlu tahu di mana kami ngampus. Kumbang mengunggah sebuah status di laman fesbuknya yang menyatakan ketidaknyamanannya karena Melati selalu mengunggah dan membagikan situs/tulisan yang mengandung sara, terlalu ikut campur urusan orang lain, dan mengatakan bahwa melati sebaiknya segera cari kesibukan yang lebih positif daripada seharian 10x mengunggah informasi yang justru meresahkan orang lain.

Kejadian itu membuatku lantas bertanya kepada Kumbang. Mengapa Ia baper menanggapi perilaku Melati. Aku pun tak lantas mengabaikan Melati. Menurutnya, menyebarkan artikel viral tentang agamanya dan menyebar situs-situs yang kurang kredibel seperti ***ru dan me*** **lam adalah salah satu usahanya untuk berdakwah.

Melati memilih akun fesbuknya sebagai sarana berdakwah dan beribadah. Aku mencoba untuk tidak memihak siapa pun. Ai??Menegur langsung sudah barang tentu aku lakukan sebagai wujud peduliku padanya. Tapi mari kita telisik terlebih dahulu kasus Melati dan Kumbang berikut ini.Ai??Dakwah Via Fesbuk, Yakin Tepat Sasaran?

1.Jumlah Pertemanan Banyak, Apakah semuaAi??followAi??kita?

Melati memiliki teman fesbuk yang telah menembus angka 3000. Tapi apakah semua akun itu mengikuti aktifitas Melati, Meski tiap hari ia mengunggah 10 kali status di berandanya? Fesbuk memiliki fasilitas follow/unfollow, apa bedanya?Ai??Fasilitas followAi??dapat digunakan untuk memantau perkemabangan akun lain yang tidak masuk dalam list pertemanan. Fasilitas unfollowAi??biasanya digunakan oleh pemilik akun fesbuk untuk tidak mengikuti aktifitas akun lain yang ada di dalam daftar pertemanan. Fasilitas ini sangat menguntungkan karena tidak kentara dibandingkan dengan melakukan unfriend atau bahkan block.Ai??Jadi, dengan filter halus ini postingan melati tidak akan tampak oleh daftar temannya.

2.Jumlah Like indikator suksesnya informasi.

Jumlah pertemanan mencapai 3000 akun logikanya mendulang 10Ai??like pada tiap status itu hal yang mudah. Namun bagi status melati mendulang like sampai diangka 5 saja susah bahkan seringnya kosongan. Berderet 10 status tapi tak satu pun yang ada simbol jempolnya. Hal ini harus diperhatikan, Mengapa demikian? Hanya ada 2 hal, yaitu status tidak bermanfaat atau seluruh temannya melakukan unfollow berjamaah. Duh, dik monolog dalam beranda fesbuk donk.

3.Komentar wujud ketertarikan follower terhadap topik

Selain ngos-ngosan mendulang like, berharap komentar pun serasa mustahil. Melati jarang sekali mendapat tanggapan berupa dukungan dari status-status yang diunggahnya dengan nada positif. Kalau pun ada hanya satu dua like atau komentarAi??yang mampir pada status-status yang relevan dengan akademisinya. Ai??Kalau sudah berbicara di luar kapasitasnya, hem, statusnya tampak seperti kuburan yang mencekam.

Jadi, Melati melakukan dakwah viaAi??fesbuk itu tepat sasaran atau tidak? Allahu A’lam. Hanya Allah dan Melati yang tahu karena fesbuk juga masih memiliki fasilitas pesan pribadi. Bisa jadi Melati berdiskusi melalui pesan pribadinya. Teman sejumlah 3000 orang harusnya bisa jadi indikator tentang kualitas status-status kita. Kalau tidak ada interaksi di dalamnya bisa jadi tidak terbaca atau memang tidak perlu ditanggapi. Entah karena hanya akan debat kusir atau memang hanya menebarkan keresahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *