Dialog Gubernur DIY bersama Netizen: Bentuk Demokrasi dalam Pemerintahan #JogjaIstimewa

Apakah demokrasi hanya diukur dari peristiwa pemilihan kepala daerah tiap periode tertentu? Mari belajar demokrasi dari Yogyakarta, sebuah daerah yang istimewa yang berbentuk kerajaan. #CumaDiJogja yang tak pernah mengadakan pemilihan kepala pemerintahan. Sejak status Daerah Istimewa Yogyakarta diberikan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasar UU 3/1930 semakin kuat legitimasinya dengan UU 13/2012.

Sejak Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat dan kadipaten Paku Alaman menyatu menjadi satu-satunya dari sekitar 250 Zelbestuurende landschappen yang berhasil menjadi Daerah Istimewa. Hal ini termaktub dalam penjelasan Pasal 18 UUD 1945 dan Pasal 18B angka 1 UUD 1945.

Penetapan keistimewaan Yogyakarta oleh NKRI berdasarkan sejarah dan asal usul menurut UUD 1945 merupakan hasil perjuangan panjang para pemimpin dan seluruh rakyatnya. Yogyakarta itu istimewa orangnya, istimewa daerahnya, dan istimewa pemerintahannya. Atas keistimewaannya menjadi barometer tentang pendidikan, kebudayaan, dan tata kelola pemerintahan di Indonesia.

Daerah yang tengah berjuang meraih ai???City of Philosophyai??? dari penetapan Perserikatan Bangsa-bangsa terus mengupayakan menjadi pusat kebudayaan terkemuka di tahun 2025. Daerah yang terkenal dengan orang-orang istimewa (cerdas, waskita, tulus, dan pantang menyerah) membingkai pemerintahan yang dialogis (berbudaya musyawarah).

Pendiri ICJ menyampaikan permasalahan parkir kepada Sri Sultan-Dok.Humas DIY

“Jogja menganut pemerintahan demokrasi sebagai salah satu jalan menuju kesejahteraan lahir batin bagi rakyat. Namun melalui TAP MPR musyawarah untuk mufakat dihilangkan dari wajah Indonesia,” Prof. Dr. Soetaryo, PhD saat peluncuran buku Jogja Memang Istimewa di Grhatama Pustaka.

Namun melihat Acara Dialog Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Netizen, daerah yang feodal itu justru menjadi bukti bahwa Yogyakarta masih memegang budaya musyawarah mufakat. Senin (20/3) lalu, Gubernur DIY mengundang makan malam para netizen dilanjutkan dengan dialog tentang dunia digital dan Yogyakarta Cyber Province 2019. Hadir dalam acara tersebut berbagai awak media elektronik, media cetak, media online, seluruh SKPD serta pegiat komunitas. Acara ini digelar di Bangsal Kepatihan Yogyakarta.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X meminta para netizen untuk membantu mewujudkan digital government services, ai???Bapak ibu Ai??sekalian yang berada di sini. Saya meminta bantuan netizen untuk membangun Digital Government Services bersama untuk menjawab semua pertanyaan publik.”

Permintaan Sri Sultan HB X pun dijawab serentak oleh para netizen, ai???sanggup.ai??? Kesempatan langka ini juga digunakan oleh Ngarso Dalem untuk mendengarkan masukan, saran, dan kritik terhadap pemerintahan diAi?? Yogyakarta. Beberapa jaringan dari Masyarakat Digital Jogja (Masdjo) urun rembug, diantaranya pendiri Info Cegatan Jogja (ICJ) dan admin Kuliner Yogya.

Antok menyampaikan pendapatnya tentang kondisi lalulintas, parkir dan premanisme di Yogyakarta. Admin Kuliner Yogya menyampaikan komentar-komentar follower di Instagramanya tentang keluhan harga makanan di Yogyakarta serta kondisi CCTV milik Malioboro dan Kominfo DIY.

Tak butuh waktu lama, seketika juga Sri Sultan menjawab. Pemerintah juga membutuhkan bantuan para netizen untuk melaporkan parkir liar karena setelah ini para netizen dapat langsung berhubungan dengan instansi terkait yang dapat menangani permasalahan tersebut.

Menurut Ngarso dalem, Pemerintah juga sedang mengupayakan pembukaan lahan parkir yang ada di area Ketandan dan saat ini masih dalam proses lobi. Pembangunan jalan tol lintas empat dari selatan menuju utara dan dari Kulon Progo hingga ke Solo. Saat ini pemerintah baru bisa rekayasa lalu lintas bekerja sama dengan kepolisian.

Usulan tentang memperbanyak CCTV diusulkan oleh admin Kuliner Yogya karena sangat membantu masyarakat untuk memilih jalur lalu lintas yang tidak padat. Memantau kondisi cuaca, dan meski masih di atas kasur menurutnya bisa melihat mata hari terbit atau pun senja dari Kali Biru.

Netizen Yogyakarta telah membuktikan bahwa perilaku positif bermedia sosial pun dapat membantu pemerintah untuk memecahkan permasalahan sosial.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *