Didik, Asuh, dan Asih adalah Pekerjaan Tiada Henti

Setiap anak memiliki masa emas perkembangan yaitu usia 0-8 tahun. Usia eman ini dianggap sebagai masa yang paling bagus untuk memberikan stimulus pada anak. Anak-anak pada usia emas, murni belajar dan membangun pemahaman dari apa yang mereka alami. Pengalaman inilah yang membentuk karakter mereka saat besar nanti.

Sebaik-baik pengalaman adalah kebahagian dimasa kecil. Seperti pendapat Gasell bahwa setiap anak memiliki kematangan biologis. Anak sudah berhak mendapat penghormatan secara individualis. Gasell mencontohkan, anak memiliki jam-jam tertentu untuk melakukan aktivitas seperti makan kalau sudah lapar, tidur kalau sudah mengantuk, dan bebas bermain.img_8584a

Kondisi Anak tersebut harus dipahami oleh orang tua agar tidak memaksakan jadwal makan, tidur, atau bermain dengan alasan orang dewasa. Gasell sangat menentang bahwa aturan orang dewasa akan merusak kebahagiaan seorang anak. Ia menawarkan kepada orang tua untuk mlakukan hal sebagai berikut:

  1. Orang tua tidak boleh mengamini bahwa anak hanya bergantung pada orang tua, sehingga kita merasa harus memadatkan jadwal pembelajaran terhadap anak agar tidak ada waktu yang terbuang percuma.
  2. Orang tua harus menghargai setiap keajaiban perkembangan anak. Tugas orang tua hanya mengamati fakta bahwa setiap waktu anak membawa perkembangan uang baru untuk dirinya sendiri.
  3. Anak-anak tidak akan pernah sama dengan orang dewasa. Biarkan anak-anak mengalami setiap masa dan tugas tumbuh kembangnya. Ketidak dewasaannya adalah hal yang harus dialami.
  4. Jangan melarang hal yang sedang ia lakukan. Tugas orang tua hanyalah mengawasi dan mengamati. Biar anak juga menikmati tahapan yang dicapainya sebelum melangkah pada tahap yang lebih besar.

Pembelajran yang dikemukakan Gasell ini membiarkan anak bergembira dan serba boleh atas perilaku yang ia kerjakan. Mungkin sebagian orang tua akan berpendapat bahwa pola pembelajaran menurut Gasell sangat boros waktu dan tidak efektif. Tapi jika orang tua tidak menghormati hak-hak anak pada saat ini petaka akan siap menemui.

Usia emas, bukan masa anak untuk belajar secara kognitif. Anak belajar untuk pengembangan rasa. Anak akan mengawali kehidupan dengan pembelajaran emosional. Seperti yang diungkapkan Pamela Phelps, Pakar parenting dari Amerika Serikat. Ia seorang doktor bidang Pendidikan Anak Usia Dini dari Florida Sate University. Kebersamaan keluarga menjadi faktor penentu pembentukan karakter anak. Kehadiran orang tua atau keluarga sangat memengaruhi kematangan emosional anak. Menurutnya, Keluarga yang harmonis dan kebersamaannya kuat, cenderung melahirkan anak-anak berkarakter positif.

Hal ini akan menjadi jaminan saat dewasa kelak. Jika anak telah tertanam karakter positif, ia tidak akan mungkin berlaku secara negatif. Apalagi kedekatan keluarga ini berlangsung terus menuerus hingga anak melewati masa remaja. Masa remaja seseorang merupakan masa kritis kedua yang berbahaya untuk dilalui. Kognitif, emosional, karakter, dan pergaulan akan mampu mempengaruhi seseorang untuk berubah sebaliknya dari karakter sebelumnya.

Hidup dalam era terbuka, perkembangan teknologi yang luar biasa seakan menafikkan adanya sekat antar manusia. Anak-anak dan remaja sangat mudah menerima doktrin-doktir yang mengatas namakan ideologi kebersamaan untuk kelompok tertentu. Doktrin ini leluasa berdifusi melalui gambar, suara (lagu), bahkan media-media yang mudah diakses siapapun.

Orangtua tidak boleh menutup mata dan telinga. Anak-anak dan remaja kita terjun bebasa sebagai penganti bom, perakit bom, demi perjuangan mereka terhadap ideologi yang baru saja mereka terima. Sejak kapan membunuh merupakan perjuangan kebaikan? Kalau sejak kecil saja orang tua selalu memberikan kehangatan dan kebahagiaan terhadap anak-anaknya.

Relakah kita anak-anak yang bertahun-tahun besar dalam desain kebaikan berubah menyerang dan mencoreng moreng keluaraga? Tugas mendidik, mengasuh, dan mengasihi merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Pengawasan, perhatian, dan kedekatan orang tua adalah pagar penjaga agar anak tidak terjerembab pada jurang kebebasan berideologi yang merugikan dirinya dan orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *