International Peace Symposium 2016

untitled

Fakultas Ilmu Sosial dan Humanioral Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta menghelat International Peace Symposium di Convention Hall lantai 1, Sabtu (29/10) lalu. Semakin maraknya penyelewengan ideologi pancasila dalam bentuk intoleran di berbagai bidang kehidupan termasuk dalam beragama terhadap kelompok minoritas menjadi latar belakang pelaksanaan kegiatan ini.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi banyak bentuk-bentuk ideologi alternatif. Termasuk mengusung paham-paham intoleran dan diskriminatif yang tersebar di masyarakat baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Kontestasi ideologi global, baik yang menjadikan ajaran agama tertentu sebagai pondasi utamanya maupun yang lebih mementingkan kepentingan ekonomi dan politik, seakan menempatkan pancasila beserta nilai-nilai luhur yang termaktub di dalamnya, menjadi tidak menarik dan perlu diperbincangkan, khususnya oleh generasi muda.

Acara ini memanfaatkan momentum dua hari besar berbangsa, yaitu Kesaktian Pancasila dan Sumpah Pemuda di Bulan Oktober. Maka terselenggaralah, ai???The Implementation of Pancasila in The Freedom of Religion as The Inspiration for The Worl,ai??? sebagai bentuk kerja sama Fakultas Ilmu Sosial dan Humanioral UIN Sunan Kalijaga dengan Kelompok Minoritas Ahmadiyah.

Kegiatan ini merupakan kegiatan kali ke-3 yang telah dilakukan oleh Jamaah Ai??Ahmadiyah. Dua tahun sebelumnya dengan Judul kegiatan International Peace Symposium telah diselenggaran di Universitas Gajahmada, dan Universitas Syarif Hidayatullah. Menurut Achmad Zainal Arifin, Ph.D, selaku Kaprodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humanioral, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligun ketua panitia mengatakan bahwa, ai???kami, sebagai tuan rumah merasa dipercaya oleh Jamaah Ahmadiyah. Karena teman-teman ini juga membutuhkan kerja sama seluas-luasnya.Ai??Mungkin akan terus dilakukan sampai tahun 2025 nanti, karena pada saat itu Ahmadiyah genap 100 tahun di Indonesia. Ini terhitung dari awal pertama kali masuk di Indonesia yaitu di Aceh,ai??? paparnya.

Lebih lanjut, Zainal Arifin juga mengatakan bahwa fakta dilapangan masih banyak ribuan Jamaah Ahmadiyah belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP). ai???Bagaimana kalau mereka tidak memiliki KTP, berartikan tidak bisa dianggap sebagai warga negara. Saya berharap dengan adanya forum-forum seperti ini bisa dilakukan lebih rutin agar masyarakat bisa mengetahui hal yang sebenarnya dan bisa melakukan konfirmasi langsung tentang Jamaah Ahmadiah.ai???

Simposium ini menghadirkan perpaduan beberapa tokoh serta akademisi yang berbagi pengalaman dari perspektif tiga kelompok islam: Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, dan Ahmadiyah, terkait implementasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembicara yang hadir dalam acara ini diantaranya Prof. Dr. Machasin (dirjen Bimas Islam, kemenag),Ai?? Maulana Azhar Haneef, Shd (AMC United State of America), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D, Ai??Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A (HAM OKI Commissioner) dan beberapa pembicara lainya.

Harapan dengan telah terselenggaranya acara ini mampu menjadi refleksi atas berbagai pengalaman berpancasila demi perbaikankehidupan berbangsa dan bernegara, serta yang tidak kalah pentingnya adalah mempromosikan model keberagaman yang diliput semangat nilai-nilai pancaasila kepada dunia internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *