Jangan Unggah Foto Pribadi di Media Sosial!!!

lindungi data anda

Pikir, pikir, pikir, kembali di pikir.
Begitulah saya sebelum mengunggah koleksi foto pribadi. Banyak hal yang saya pikirkan dan pertimbangkan demi sebuah foto.

Tak jarang juga foto-foto yang telah saya unggah beberapa waktu lalu kemudian saya hapus. Meskipun dalam dunia internet berlaku hukum sekali unggah akan bersifat permanen. Orang lain terlanjur tahu bahwa saya telah berbagi foto.Ai??Mereka bisa saja menggunakan foto saya tanpa izin.

Saya tidak bisa membatasi orang lain untuk tidak menggunakan foto saya dengan sembarangan. Saat itulah pintu cybercrime terbuka untuk saya. Cybercrime Ai??adalah istilah yang mengacu pada aktivitas kejahatan yang dilakukan di dunia maya dengan menggunakan teknologi komputer atau jaringan komputer (patartambunan.com).

Foto merupakan salah satu identitas seseorang. Coba kartu/surat identitias mana yang tidak disertai foto? KTP, SIM, Kartu Perpustakaan, Surat Nikah, Paspor, dll. Identitas diri adalah hal privasi. Bukankan kita wajib melindunginya? Mengapa? Zaman keterbukaan informasi membuat orang semakin mudah melakukan dan berisiko menjadi korban kejahatan. Hanya dengan modal foto orang lain akan mudah menelisik diri kita. Kalau tujuannya untuk pendekatan dan mengajak menikah sih tidak apa-apa tapi kalau kita jadi target operasi kejahatan?

Tidak percaya?

Banyak penculikan, perampokan, kecelakaan misterius, pembunuhan oleh orang tak dikenal hanya karena otak pelakunya mengirimkan foto kita pada pelaku. Naudzubillah mindzalik. Semoga kita selalu dalam perlindungan-Nya. Berikut adalah kutipan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang dirilis oleh kumparan.com pada 24 Desember 2016 lalu.

Kasus pornografi dan hate speach berbasis cybercrime anak meningkat tiap tahun sejak 2011-2016 yang menduduki peringkat tiga. Hal ini berbanding lurus dengan penggunaan internet dikalangan usia muda yang meningkat sebanyak 75%.

Memang hal ini bisa terjadi?

Ai??Semua gara-gara foto dan netiket bermedia sosial yang tidak dipahami oleh penggunanya. Merasa akun media sosial adalah milik pribadi maka dengan senang hati mengunggah data pribadi semaunya sendiri. Jika di kehidupan nyata kita hidup bertetangga maka di media sosial kita hidup bertetangga dengan follower yang mungkin saja dia bukan orang yang mengenal kita secara lengkap. Muncul ketersinggungan, merasa tidak senang bisa saja terjadi antara kita dan follower. Muncullah bibit-bibit kebencian, suka yang berlebihan (contohnya pedofil) dan kejahatan.

Orang yang telah membiarkan bibit itu bersemi dalam dirinya bisa saja melakukan banyak hal untuk mencari data informasi tentang pemilik akun melalui aktivitas di media sosialnya. Hal yang biasa menjadi kunci antara lain penggunaan penanda lokasi, tulisan status, interaksi di komentar termasuk orang-orang yang berkomentar, penanda teman, dan percakapan pesan pribadi.

lindungi data anda

Google telah memberikan banyak kemudahan dimana siapa pun dapat mengakses tempat baru hanya dengan mencari titik koordinat melalui fitur peta. Itulah sebabnya, mengapa jumlah kasus perampokan, penculikan, pedofil dan pembunuhan misterius meningkat. Kecanggihan teknologi adalah sebab yang sangat membantu gerak mereka.

Kembali lagi pada foto sebagai data pribadi. Apakah masih ingin mengumbar jati diri. Kalau orang harus tahu kita pintar, kita kaya, kita kesusahan, kita sedih ada cara yang lebih elegan. Yuk, lindungi data diri kita dan ingatkan yang lainnya. Cerdas berinternet demi keselamatan diri.

 

2 Comments

  • Damavara says:

    Karena belum bisa mengotrol foto pribadi untuk di share, saya lebih memilih untuk rutin menyaring followers di akun sosmed yg sifatnya lebih pribadi. Jadi saya bisa pastikan dengan siapa saya membagikan foto saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *