Peran Perempuan dalam mewujudkan Perdamaian

Perintah menjadi khalifah di bumi tidak ditujukan oleh Tuhan kepada jenis kelamin tertentu. Bahkan untuk menjelaskan firmannya Tuhan mengirim beberapa peristiwa dengan menokohkan beberapa perempuan pilihan seperti Ibu Nabi Musa A.S, Maryam Ibu Isa A.S, Elizabeth istri Nabi Zahakaria A.S, Ratu Balqis istri Nabi Sulaiman A.S, Siti Asiyah istri Firai??i??un, Siti Khatidjah dan Siti Aisyah istri Nabi Muhammad, S.A.W.

Perempuan-perempuan pilihan itu menjadi sosok inspirasi sesuai dengan potensi dan bidang keahliannya. Perempuan ini juga terlibat dalam praktik pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan bernegara. Posisi pemimpin pun mereka duduki, tak lain untuk menciptakan perdamaian.

Ibu Nabi Musa A.S. mendapat perintah untuk menghanyutkan anaknya di sungai agar terhindar dari murka Raja Firai??i??aun. Maryam Ibu Nabi Isa A.S mendidik anaknya seorang diri tanpa suami demi tidak menimbulkan pertentangan dia memilih mengasingkan diri untuk melahirkan Isa. Elizabet istri Nabi Zakaria A.S setia mendampingi suaminya hingga melahirkan seorang tokoh yang mulia juga Nabi Yahya A.S.

Ratu Balqis yang pandai, berkuasa, dan selalu memilih jalan damai dalam berpolitik dan bernegara dikisahkan ketika menanggapi surat Nabi Sulaiman A.S. Siti Asiyah yang cantik dan cerdas meski tak sependapat dengan suaminya, Raja Firai??i??aun dia bisa berkontribusi menjadi dewan pertimbangan dalam politik kerajaan suaminya. Siti Khatidjah sebagai perempuan pandai berdagang baik untuk keluarga dan juga orang sekitarnya, sedangkan Siti Aisyah adalah perempuan cerdas yang menjadi rujukan masyarakat setelah Nabi Muhammad S.A.W wafat. Sebagai penerus kepemimpinan ia adil pada sesuatu yang telah jelas peraturannya menurut Al-Qurai??i??an dan Hadist.

Pertentangan, pertikaian, dan pertumpahan darah tak terlepas dari hal kecil yang disebut dengan ketidakadilan. Jika Pramudya Ananta Toer berkata, ai???Bersikap adillah sejak dalam pikiran. Jangan menjadi hakim bila kau belum tahu duduk perkara yang sebenarnya.ai??? Maka semua hal itu akan baik untuk sesama.

Perempuan masa kini, tak jauh beda dengan perempuan masa lampau yang masih dikaruniai dengan keluasan wawasan dan peran-peran strategis. Suara perempuan juga masih mendapat ruang untuk jadi pertimbangan sebuah kebijakan. Perempuan sebagai sumber pendidikan sebuah keluarga, yaitu organisasi paling kecil dalam bernegara wajib bersikap adil sejak dalam pikiran. Tidak mudah percaya pada sebuah informasi baru dan perjelaslah duduk perkaranya. Perempuan sebagai Ibu akan menjadi rujukan dan tempat klarifikasi oleh anak-anak. Perempuan sebagai penentu arah dan kualitas generasi muda.

Tapi apa jadinya, jika perempuan yang terlahir cerdas, canggih, dan berwawasan luas itu tak pandai dalam bermedia sosial di era digital ini? Setiap Perempuan itu canggih dan bisa multy tasking. Sekali tempo perempuan mampu menengakan bayinya, membereskan rumah, dan pekerjaan lainnya. Perempuan juga penyimpan rahasia yang baik, lihat saja kisah Asiyah istri Firai??i??aun yang tak sejalan dengan prinsip suaminya namun masih punya posisi tawar dalam pegambilan keputusan demi sebuah keadilan dan perdamaian.

Tapi jika perempuan tak pandai memilih dan memilah sehingga terjebak dalam konsumsi informasi hoax. Itu hanya perkara malas dan impulsif. Malas membaca, malas melakukan verifikasi dan klarifikasi, serta impulsif/buru-buru membagikan berita yang belum pasti duduk perkaranya. Bisa diprediksi bukan jika seorang perempuan malas dan impulsif dalam bermedia sosial?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *