Revolusi Mentalmu Bisa Dimulai dari Omah Petroek

Baper boleh tapi pener!

Kalau bapermu tanpa data aku cuma ketawa.

Jangan ngaku menerima pembeda kalau masih memperuncing suasana – Elizhabet Elzha.

 

Salam damai untuk Indonesia!

Kira-kira begitu perasaanku ketika melihat perilaku followers di media sosial. Mudah sekali memberikan apresiasi pada konten-konten hoax dengan cara memberikan like hingga membaginya di beranda media sosial mereka. Baper? Iya, sungguh baper yang kuAi??rasa.

Prihatin? Sangat prihatin sekali, followers-kuAi??ini notabane-nya adalah orang-orang terdidik. Sarjana, profesional, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah menjelajah Indonesia di usia muda saat ini. Harusnya mereka lebih kaya dari pada aku yang hanya kembang tebu.

Mengingat kata muda, Indonesia adalah gudanngnya. Apalagi pengguna Internet di Indonesia yang berkisar umur 17-35 tahun. Usia-usia muda dan produktif. Menurut catatan dunia, Indonesia menduduki peringkat 6 dari 25 negara Dunia dengan jumlah pengguna internet paling tinggi. Tahun 2014 hingga 2016 Indonesia memiliki angka yang terus naik, yaitu 83,7 juta; 93,4 juta menjadi 102,8 juta pengguna. Data ini dirilis oleh Kompas.com yang di bagikan ulang melalui kanal Kominfo.go.id.

Terpampang nyata, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia selalu mengalami kenaikan. Ini adalah ancaman jika tidak ada edukasi tentang penggunaan internet sehat, akuAi??yakin Indonesia akan mudah dibobol pertahanannya.

Pertahanan yang mana? Tentu pertahanan mentalnya! Jika mental pengguna internet di Indonesia masih mental likers dan penelan pil, runtuh NKRI. Maka aku menyarankan, kalian para pengguna internet rajin-rajinlah piknik! Karena Kurang piknik bisa menyebabkan panik.

Elzha sedang wawancara dengan Antok Agustinus kanan

Elzha sedang wawancara dengan Antok Agustinus kanan, ini potografernya gagal fokus.

Kalau kamu memang menerima perbedangan dengan kata ai???Tapiai??? mungkin tempat ini bisa jadi rekomendasi untuk memulai revolusi mentalmu. Omah Petroek, rumah budaya yang berada di kaki Gunung Api Merapi, Kampung Karang Klethak, Wonorejo, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Tepat di pinggir Kali Boyong di atas Sendang Bagong. Omah Petroek menyajikan keragaman Indonesia dengan cara anggun dan elegan.

Budaya, hal paling terbuka untuk mengakomodasi perbedaan. Tapi, tidak ada yang menolak jika budaya dikemas melalui karya seni. Siapa pun menikmati. Tua, muda, lelaki, perempuan, dan segala status sosial bisa sujud mengamini keindahannya.

Omah Petroek diilhami dari Tokoh Petruk, salah satu personil punokawan yang jujur, sederhana, dan ramah diimplementasikan dalam bentuk-bentuk barisan rumah ibadah. Sepanjang pinggiran Kali Boyong, batas paling luar area Omah Petroek sengaja di bangun ruang ibadah untuk penganut-penganut agama di Indonesia seperti langgar, kapel, joglo, dan pura. Patung-patung Budha, dewi kwan Im, Mbok Turah, Adi dalem, dan karya-karya artistik lain di tata untuk sebuah maksud setara.

Adalah pandangan biasa ketika salah satu joglo di Omah Petroek digunakan untuk misa sedangkan langgar digunakan untuk solat serta Joglo digunakan untuk meditasi oleh penganut aliran kepercayaan dalam waktu bersamaan. ai??? Di sini Tuhan selo (Jawa: memiliki waktu luang), siapa saja boleh mengekspresikan komunikasi berbeda untuk-Nya,ai??? begitu tutur Antok Agustinus, staf pengelola Omah Petruk.

Fenomena itu pun juga saya alami ketika saya singgah di sana. Tidak ada yang namanya penistaan agama, hujatan, bahkan baper-baperan yang tidak jelas. Mereka khusyuai??i?? dengan cara sendiri-sendiri dalam waktu bersamaan. Kalau sudah begini masih perlukah kita berteriak ai???Kafirai??? pada umat lain?

Kamu, iya, kamu pembaca yang budiman dan berakal. Perbedaan di Indonesia adalah kekayaan. Bhineka Tunggal Ika adalah napas yang harus kita jaga. Jadilah pengguna internet yang berwibawa dengan menjaga jarimu untuk lebih selektif dalam melakukan klik. Salam Damai untuk Indonesia, Salam Budaya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *