Run Think Raket, Metafora Persatuan Orang Jawa Pinus Pengger Daerah Istimewa Yogyakarta

Wisata, dengan dukungan maraknya platform media sosial untuk membantu orang berkabar, telah menjadi bagian dari gaya hidup. Dua fenomena ini menjadi jalur strategis bagi pengelola Wanawisata Budaya Mataram Pengger untuk menggaungkan persatuan melalui spot foto.

Berada di kawasan RPH Mangunan, Hutan Pinus Pengger kini ramai dikunjungi. Wanawisata Budaya Mataram Pengger resmi beroperasi sejak setahun lalu, tepatnya 10 April 2016. Menawarkan lanskap alam berupa pemandangan Kota Yogyakarta, GunungApi Merapi dan kreativitas serta inovasi spot foto, mampu menarik pengunjung dan terus meningkat. Menurut data dari Sekertariat Hutan Pengger pada libur lebaran 27 Juni 2017, pengunjung mencapai 6.821 orang; sementara rata-rata kunjungan perhari adalah 2.000 orang di hari biasa.

Kreativitas dan inovasi spot foto Wanawisata Budaya Mataram Pengger ini digagas oleh Moch. Wisnu Ajitama, seorang Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta asal Kediri. Ia memberi nama karya ini sebagai ai???Land Art Run Think Raketai???, plesetan dari ranting raket.Ai?? Secara harfiah kata ini berarti ketika menjalankan sesuatu, senantiasalah berpikir dan merasa tentang masalah yang sedang dihadapi. Run Tink Raket menjadi metafora persatuan bagi Orang Jawa Pinus Pengger Yogyakarta.

ai???Land Art ini bertujuan mengajak untuk kembali mengenali alam dan menyuarakan persatuan. Mengingat kembali semangat Founding Father tentang ai???Bis Holobis Kuntul Barisai??? bahwa semangat persatuan dan gotong royong kini mulai luntur,ai??? tuturnya saat ditemui penulis di Sekertariat Pengelola Wanawisata Budaya Mataram Pengger, pada 18 Juni 2017 lalu.

Wisnu Ajitama telah menuliskan konsep karyanya ini dalam sebuah buku berjudul ai???Land Art Run Think Raket and the Unfished Thingsai??? sebagai upaya menjelaskan lebih detail tentang karyanya ini.

Keberagaman dan Gotong Royong dalam Konsep Land Art Run Think Raket

Ia ingin menghidupkan kembali rasa persatuan antara manusia dan alam, pun sebaliknya manusia hendaklah berlaku prihatin, cetta abipraya, pancawara, dan marmati dalam tiap langkah hidup melalui kerja kolaboratif. Bersama pengelola dan masyarakat Sendangsari, Terong, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ia berproses sejak 12 Desember 2016 hingga 26 Januari 2017. Wisnu Ajitama mulai membangun karya seni ini dari penelitian terhadap sumber daya manusia dan alam, sejarah, serta mitos yang masih diperbincangkan di daerah ini.

Proses menggaungkan persatuan, gotong royong, serta kembali pada alam berlangsung bersamaan dengan Wisnu Ajitama melakukan pendekatan terhadap warga, memaparkan konsep, dan merancang pelaksanaan ai???penciptaanai??? karya seni hingga pascapenciptaan.

Keberagaman dan gotong royong itu tercermin dari berbagai pihak yang terlibat seperti Pramuka ISI dan UNY, siswa-siswi PAUD, TK, SD Sendagsari. Keberadaan pengunjung sebagai kepanjangan mulut, menggemakan ke seluruh penjuru tentang keberadaan Wanawisata Mataram Pengger serta pesan yang ingin disampaikan. Baik berupa tulisan maupun foto, dan melalui media sosial ataupun percakapan. Selengkapnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *