SARING SEBELUM SHARING !

Jejak digital, yang tercipta atas segala tindak-tanduk digital penggunanya, sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai bom ranjau yang tertanam di dalam si pemilik jejak. Ahmad Zaenudin – tirto.id

Beberapa waktu yang lalu dunia maya, digegerkan oleh isu kekerasaan yang terjadi pada Ratna Sarumpaet. Banyak pejabat tinggi Negara Indonesia, beramai-ramai mengutuk dan mengecam tindakan kekerasan tersebut. Seperti Hanum Rais yang menuliskan opini mengenai permasalahan tersebut di dalam media sosialnya. Hanum Rais menyatakan bahwa Ratna Sarumpaet adalah Cut Nyak Dien masa kini. Bukan hanya Hanum Rais saja, tetapi banyak pula pendukung dari Prabowo Sandiaga, seperti Fadli Zon, Rachel Maryam. Bahkan dari Prabowo Subianto sendiri juga mengadakan konferensi pers terkait permasalahan tersebut.

Selang beberapa hari terkait permasalahan tersebut, banyak sepekulasi yang bertebaran di masyarakat bahwa Ratna Sarumpaet bukan mengalami tindak kekerasan. Tompi yang berprofesi sebagai dokter bedah plastik, mengungkapkan bahwa begkak di wajah Ratna Sarumpaet disebabkan adanya bekas operasi plastik. Bukan hanya itu Polrestabes Bandung dan 28 Polsek jajaran segera melakukan pencarian nama Ratna Sarumpaet di 23 Rumah Sakit di Bandung, tetapi hasilnya Polisi tidak menemukan pasien yang bernama Ratna Sarumpaet, Polisi juga mengecek daftar penumpang penerbangan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, tetapi hasilnya nihil.

Penemuan-penemuan tersebut menciptakan kecurigaan di masyarakat. Bahwa sebenarnya Ratna Sarumpaet telah menyebar berita yang tidak benar. Beberapa hari kemudian Ratna Sarumpaet mengadakan konferensi pers di rumahnya terkait permasalahan tersebut. Ratna Sarumpaet mengungkapkan bahwa tidak ada tindak kekerasan berupa penganiayaan, cerita tersebut hanya sebuah cerita khayal yang di berikan oleh setan kepadanya.

Jejak digital diibaratkan sebagai bom ranjau.  Seperti itulah yang terjadi pada pembela Ratna Sarumpaet. Salah satunya Hanum Rais yang segera meminta maaf kepada pengguna dunia maya, tetapi bukan simpati yang diberikan pengguna dunia maya terhadap dirinya, malah mendapat komentar negatif.

 

Bukan hanya itu efek dari “Belum Saring Sebelum Sharing” juga berimbas kepada calon persiden Prabowo-Sandiaga Uno, dikutip dalam iniKata.com mengungkapkan bahwa,  LSI Denny JA melakukan survei dan hasilnya menunjukkan bahwa setelah kasus hoax Ratna Sarumpaet, tingkat elektabilitas Prabowo-Sandi turun dari 29,2 persen pada September menjadi 28,6 persen di bulan Oktober atau turun sekitar 0,6 persen.

Maraknya “Belum Saring Sebelum Sharing”, bukan hanya terjadi pada masyarakat umum, bahkan para pejabat tinggi negara yang mayoritas orang-orang terdidik dapat melakukan hal  tersebut. Sebagai pengguna dunia maya kita dituntut cerdas dalam berdunia maya salah satunya adalah dengan mengganti budaya “Belum Saring Sebelum Sharing,” diganti dengan budaya “Saring Sebelum Sharing.” Menyaring setiap informasi yang didapat sebelum disebarakan kepada orang lain. Lalu bagaiamana menerapkan budaya “Saring Sebelum Sharing”, berikut tipsnya :

 

  • Cara yang pertama, saat kita menemui sebuah informasi ya
  • ni isi informasi tersebut kita harus mencari sumber lain yang relevan kemudian kita bandingkan isi nya.
  • ng judulnya menyajikan informasi provokatif, sebaiknya kita tidak langsung mengami
  • Cara kedua, cek keaslian photo, terkadang berita atau infomasi hoax sering menggunakan photo palsu, dengan mengedit photo tersebut sehingga memprovokasi kita, cara yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.
  • Cara yang ketiga adalah jangan mudah terpancing emosi, terkadang saat membaca suatu informasi yang mengaduk-aduk perasaan kita, emosi kita seakan terpancing, cara yang terbaik untuk menghadapi permasalahan tersebut adalah kita tidak boleh langsung percaya terhadap infomasi tersebut, sebaiknya kita harus mencari tahu dulu sebelum kita mengkliktombol share.
  • Cara yang keempat berpikir rasional, sebelum kita menyebarkan sesuatu sebaiknya kita harus dapat berpikir rasional, kita tidak boleh langsung menyebarkan sesuatu yang belum benar adanya, sebaiknya kita cari kebenarannya dahulu.
  • Cara terakhir berpikir kritis dan membaca informasi sampai akhir, saat membaca informasi terutama di dunia maya yang sarat akan hoax ini, kita dituntut kritis untuk mengantisipasi hoax perkembang di masyarakat, selain itu kita harus membaca informasi sampai selesai hal ini bertujuan untuk mencegah kita salah dalam memberikan informasi kepada orang lain.

Itulah tips- tips sederhana  yang bisa kita lakukan untuk menerapkan budaya “Saring Sebelum Sharing”,  mari bersama menjadi insan yang cerdas di dunia maya, dimulai dari diri sendiri dan menyebar ke orang lain. (Antika Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *