Stasiun Maguwo Lama Jadi Lokasi Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah heritage

Stasiun Maguwo Lama merupakan stasiun kayu satu-satunya yang masih berdiri di Yogyakarta. Stasiun ini dibangun oleh NISM (Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij) pada tahun 1909, kemudian stasiun ini direnovasi pada tahun 1930an. Stasiun Maguwo Lama merupakan stasiun sibuk pada jamannya karena memiliki 3 jalur sekaligus, yaitu jalur milik SS (Staatspoorwagen), NISM dan jalur lori milik Pabrik Gula Wonocatur (Saat ini adalah Museum Dirgantara). Pada masa pendudukan Jepang, rel milik SS ini dibongkar untuk dipasang kembali di Myanmar atau lebih dikenal dengan death railway.

Fakta lain tentang Stasiun Maguwo Lama, yaitu saksi sejarah agresi militer Belanda II 19 Desember 1948. Pada tahun 1955 presiden Soekarno pernah menginjakkan kakinya di Stasiun Maguwo Lama dengan kereta luar biasa Maguwo-Purwokerto. Jalur kereta yang sampai saat ini masih aktif di depan Stasiun Maguwo Lama adalah jalur bekas milik NISM. Stasiun mulai tidak aktif di tahun 2008 dikarenakan beroperasinya double track rel dan aktifnya stasiun Maguwo yang terletak di bandara Adi Sucipto. Setelah tidak aktif, bangunan stasiun Maguwo Lama yang terbuat dari kayu dikonservasi oleh pusat pelestarian benda dan bangunan PT. KAI.

Sebagai saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia, stasiun Maguwo Lama memiliki nilai historis yang sangat dalam. korban tewas dalam agresi militer Belanda II dimakamkan di bawah pohon kamboja 15 meter timur bangunan stasiun. Mengunjungi stasiun Maguwo Lama mengingatkan kembali perjuangan bangsa kita dalam mempertahankan kemerdekaan. Mengutip dari kata-kata milik founding father bangsa kita, jas merah jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Bung Karno,1955) karena mengunjungi tempat bersejarah merupakan langkah awal kita untuk refleksi diri mengenai identitas sebagai Bangsa Indonesia.

Kegiatan kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage bentuk kolaborasi antara Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Yogyakarta dengan Komunitas Roemah Toea, dan didukung oleh Dinas Kebudayaan Sleman, PT. KAI DA OP 6 Yogyakarta, Komunitas Malam Museum, Masyarakat Digital Jogja, Dinas Kominfo DIY, dan Komunitas Kompasianer Yogyakarta, dan Kumpulan Emak Bloger Yogyakarta telah terlaksana pada Minggu, 2 April 2017. Acara berlangsung sesuai rencana dari jam 08.00-14.00 WIB diAi??Stasiun Maguwo Lama, Kembangan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Pelajar, mahasiswa, perwakilan komunitas, buzzer dan para tamu undangan beraktivitas selama 6 jam di Stasiun Maguwo Lama. Adapun yang kami lakukan yaitu jelajah heritage (napak tilas), menulis dan mendokumentasikan kegiatan (foto dan video) kemudian memviralkan di media sosial melalui hastag MewarnaiIndonesia, diskusi dan klarifikasi, serta evaluasi kegiatan.

Bapak Burhani, Kepala Stasiun Maguwo berkenan membuka sekaligus menutup acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ramah tamah dengan peserta. Acara inti pada kegiatan ini adalah jelajah heritage dengan berkeliling komplek Stasiun Maguwo lama yang difasilitasi oleh Hari Kurniawan dan Aga Y.P dari Komunitas Roemah Toea dilanjutkan dengan menulis difasilitasi oleh Elizhabet Elzha dari Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Yogyakarta.

Menulis merupakan kegiatan produksi konten tentang Stasiun Maguwo Lama yang dibagi menjadi dua yaitu tulisan singkat melalui media sosial dengan platform twitter, instagram, dan facebook serta tulisan panjang atau artikel dengan platform blog. Selain menulis, peserta juga mendokumentasikan kegiatan melalu foto dan video.

Produk-produk ini melalui tahap kurasi selama 15 hari. Panitia akan memilih karya terbaik dari setiap produk untuk bisa dipublikasi melalui akun media sosial baik Roemah Toe, Dinas Kebudayaan Sleman, dan Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Yogyakarta (Redaksi Pojok Damai).

Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara generasi milenial (pelajar dan mahasiswa) serta dinas terkait untuk memupuk rasa kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia dan rasa memiliki terhadap peninggalan sejarah. Produk-produk kegiatan yang dihasilkan diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk melakukan konservasi terhadap benda peninggalan sejarah.

Berbagai potensi dalam menyuarakan Stasiun Maguwo Lama, baik melalui produk tulisan, foto, video, serta ide pihak-pihak pemangku kebijakan menjadi satu wujud Mewarnai Indonesia melalui aktivitas positif dan kreatif. Generasi muda menemukan wadah yang tepat untuk belajar tentang sejarah yaitu komunitas Roemah Toea, tidak terjebak pada perilaku kenakalan remaja dan dapat memproteksi diri dari propaganda radikalisme serta terorisme. Dari anak muda untuk anak muda dengan gaya anak muda didukung oleh orang tua, begitu sekiranya kegiatan ini dilaksanakan.

 

*Ditulis oleh Elzha dan Niken

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *