“Waspada Kata-kata Profokatif dan Ujaran Kebencian! Mari Cerdas Bermedia Sosial”

Kata-kata adalah anugerah Tuhan yang sangat ajaib nan menakjubkan. Sebuah mesin yang menciptakan berbagai macam respon dan perbuatan. Sebauh alat komunikasi yang memberikan pemahaman bagi pendengarnya. Manusia harusnya banyak bersyukur karena diberi mulut yang mampu menghasilkan kata-kata manis nan magis, yang biasa digunakan oleh para pujangga untuk menggaet gadis.
Berbeda dengan hewan yang memiliki mulut tapi apa yang mereka ingin ungkapkan tidak sera merta menggunakan kata-kata. Coba bayangkan jika hewan juga bisa ngomong terus segala sesuatunya diungkapkan lewat kata-kata. Pasti kucing gak perlu repot kejar-kejaran pas musim kawin, cukup kasih gombalan-gobalan receh khas anak milenial zaman NOW. Pasti langsung klepek-klepek kucing ceweknya.

Kalo kucingnya marah bisa kita tebak kata-kata kasarnya kurang lebih pasti berbunyi begini “woiii kucing b*ngs*t.. dasar anak m*nusia…!!!”

Wawww… amazing bukan?…

Hehehe

.Begitulah gaes kira-kira intro untuk tema kali ini. ~~~

Jangan remehkan kekuatan sebuah perkataan!!!

Banyak peristiwa-peristiwa sejarah terjadi karena sebuah kata-kata. Contoh saja perang sepuluh November 1945 di Surabaya. Provokasi Bung Tomo dengan kata-katanya yang menggebu-gebu mampu menggerakkan arek-arek Suroboyo untuk berperang melawan sekutu NICA yang mengultimatum untuk menyerah. ucapan-ucapan yang menggugah emosi setiap jiwa rakyat Indonesia kala itu menusuk dalam, masuk kesetiap hati para pejuang, terpatri dan menjadi stimulan keberanian dalam menghadapi pertempuran.

Dengan kata-kata negara ini merdeka, yaitu dengan proklamasi yang dibacakan Soekarno.

Dengan kata-kata Indonesia disatukan, yaitu dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan kata-kata para pemuda dahulu bersatu, yaitu dengan ikrar Sumpah pemuda.

Dan lain-lain masih banyak lagi.

Namun selain menimbulkan efek positif seperti contoh di atas sebelumnya, kata-kata juga pernah menjadi pemicu banyak hal-hal negatif dan merusak.
Diantaranya adalah perang di Poso yang bemula dari sebuah percekcokan adu mulut dan saling hina antara dua orang hingga akhirnya membesar menjadi pertikaian yang mematikan. Pasca pembubaran PKI yang banyak menghilangkan orang karena tuduhan yang tak pernah tebukti.

Apapun itu. Perkataan tidak benar akan menimbulkan masalah yang merugikan masing-masing pihak. Terkadang perselisihan yang terjadi memang sudah direncanakan oleh oknum yang memainkan adu domba.
Sejak dahulu kala kata-kata banyak digunakan untuk meyukseskan sebuah agenda besar yang mebutuhkan gerakan masa. Seperti operai trikora dengan menggunakan propaganda “Papua adalah saudara kita” “Papua adalah bagian dari Indonesia” berhasil menghimpun tenaga rakyat indonesia sebagai relawan untuk membebaskan Papua dari tangan sekutu dalam upayanya membuat negara boneka. Hingg pada akhirnya Papua menjadi bagian dari negara kita secara resmi pada akhir tahun 60an sebelum Sukarno lengser. Itu merupakan salah satu bentuk positif daripada kata propaganda yang diarahkan pada hal yang menguntungkan Bangsa Indonesia ini.

Apa yang diucapkan Sukarno pada saat itu murni demi kepentingan Bangsa dan Negara, bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Sehingga hasilnya pun dapat dirasakan sampai saat ini.
Berbeda dengan ujaran mupun kta-kata yang bertebaran disosial media pada saat ini. banyak tercampur didalamnya kepentingan politik seseorang dan golongan tertentu. Segala cara digunkan demi untuk memenangkan kontestasi tahunan yang rutin digelar.

Tanpa sadar mulai banyak ancaman yang memanfaatkan kondisi yang demikian tersebut untuk merongrong kedaulatan negara kita. Dari mulai ajakan untuk mendirikan khilafah hingga menjadi simpatisan suriah, mulai banyak kita temukan di dunia maya. Dengan memanfaatkan sentimen masyarakat menegah kebawah mereka mulai mengadu domba sesama anak bangsa. Memercikkan api perpecahan dengan cara menyerang hal yang paling sensitif dalam masyarakat Indonesia.

Sebut saja saat ini yaitu sentimen-sentimen agama. Banyak terjadi dimana-mana agama menjadi tunggangan atau bahkan temeng demi membungkus agenda busuk didalamnya. Sama sekali tidak ada niat baik dalam agenda mereka. Bagi masyarakat yang tidak paham apa yang terjadi di Garut ketika pembakaran bendera berlafadzkan “Laa Ilahaa Illa Allah Muhammad al Rasulullah” adalah penistaan terhadap agama Islam. Padahal bendera tersebut adalah bendera HTI yang organisasinya sudah dilarang di Indonesia.

Setelah kejadian tersebut banyak media yang memlintirkan narasi yang memicu emosi umat Islam pada umunya dengan statment pelecehan dan penistaan terhadap kalimat tauhid. Padahal jika para netizen atau warganet tahu yang sebenarnya bendera hitam (Liwa’) dan bendera putih (Rayya) sudah jelas disebutkan dalam kitab pedoman HTI yaitu kitab daulah Islam fi mafahim Hizb Tahrir disebutkan bahwa ar Rayya adalah bendera resmi negara sedangkan Liwa’ digunakan untuk berperang. Namun kebanyakan warganet hanya asal kepancing saja, bermain emosional tanpa berfikir panjang, sehingga mudah terhasut oleh narasi-narasi profokaatif para simpatisan HTI.

Hal ini tentu bukanlah hal baik yang tidak bisa kita biarkan begitu saja menyebar di dunia maya. Narasi-narasi yang bermunculan banyak sekali mengandung kebohongan dan hanya menimbulkan adu domba rakyat Indonesia. Saling caci antar umat beragama, hingga pertikaian-pertikaian tak berujung sesama bangsa.
Hal tersebut sebenarnya bisa kita hindari jika kita cerdas dalam bermedia sosial. Dengan akal sehat saja kita sudah cukup untuk membedakan mana kata-kata bohong dan juga profokatif yang mengarah pada adu domba. Namun hal tersebut hanya bisa dilakukan jika kita tetap tenang dan tidak gampang tersulut emosi ektika melihat narasi atau postingan dalam dunia maya. Jika kita mudah emosi dan tidak mau berfikir positif terhadap berita apapun yang ada dalam dunia maya, niscaya kita hanya akan menjadi sasaran empuk para buzzer-buzzer hoax yang menginginkan terjadinya pepecahan di negara kita ini.

Untuk itu mari, kita bersama-sama cerdas dalam bermedia sosial. Jangan mudah terprofokasi ujaran-ujaran kebencian yang mengarah pada adu domba antar sesama bangsa Indonesia. Ada beberapa tips yang bisa netizen dan warganet lakukan untuk terhindar hal negatif dan profokatif dalam sosial media

Pertama

Pastikan untuk tetap bersikap tenang ketika melihat berita yang menghebohkan sebelum mengetahui kebenarannya. Untuk mengetahui kebenaran suatu berita, kita bisa melakukan perbandingan dengan media-media kredibel nasional yang terpercaya. Atau dengan menanyakan langsung pada sumber-sumber yang jelas dan dekat dengan kejadian tersebut.

Kedua

Pastikan narasinya tidak ada unsur profokatif dan ujaran kebencian. Jika kita menemukan adanya ujaran kebencian dan profokatif dalam suatu media sudah dipastikan berita tersebut hoax dan tidak benar. Kalaupun beritanya benar adanya, tetap saja ujaran kebencian dan profokatif tidaklah dibenarkan. Segera tinggalkan akun tersebut, bila perlu di report supaya ditindak lanjuti kominfo maupun BNPT.

Ketiga

Jangan asal menyebarkan berita atau artikel yang judulnya menghebohkan. Pastikan kita sudah tahu isinya dan narasi yang digunakan dalam penulisannya. Karena, banyak hoax yang disebar menggunakan narasi-narasi yang dilebih-lebihkan dan profokatif hanya untuk menyulut perpecahan.

Keempat

Perbanyak membaca dan belajar. Banyak dari kita mudah terprofokasi karena kurangnya pengetahuan akan sesuatu. Misalnya tentang HTI, banyak orang yang berbondong-bondong mealukan aksi karena merasa tergugah untuk membela kalimat tauhid, tanpa sadar mereka hanya diperalat untuk kepentingan mereka sendiri.

Jadilah warganet yang cerdas dengan tidak menyebarkan konten-konten yang tak jelas sumbernya dan berbahaya narasinya

Salam Damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *